
Penulis: Anna Knöbl
Suatu kali saya mengikuti Onlinevortrag dalam bahasa Jerman berjudul: Neurodiversität – anders, aber völling richting im Kopf di Kampus saya yang disampaikan oleh Prof. Dr. Andre Frank Zimpel. Berikut saya bagikan catatan saya sebagai peserta. Semoga ini membantu kita memahami Neurodiversitas.
Pembicara menjelaskan bahwa bagi sebagian individu, terutama yang berada dalam spektrum neurodivergent, kehidupan sosial bisa menjadi sangat melelahkan karena overload rangsangan. Ketika kondisi seperti autisme dan ADHD muncul bersamaan, diagnosis menjadi lebih sulit karena kedua sistem perhatian tersebut bekerja secara berbeda dan kadang bertolak belakang. Saat ini penelitian sudah menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki autisme dan ADHD sekaligus, bahkan ditambah kondisi lain seperti disleksia, diskalkulia, atau sindrom genetik tertentu.
Contohnya, pembicara menjelaskan tentang gen tertentu yang memengaruhi produksi zat penting seperti GABA, dopamin, lisin, dan glutamat. Ketika zat-zat ini tidak diproduksi dengan optimal, hal tersebut dapat menciptakan kondisi biologis yang mendekati autisme atau ADHD atau keduanya.
Pembicara kemudian memberikan beberapa contoh nyata dari dunia pendidikan. Ada seorang siswa yang sangat berbakat dalam pemrograman Assembler namun dilarang masuk ruang komputer karena tanpa sengaja menjatuhkan monitor akibat tic dari Tourette yang tidak terdiagnosis. Karena tidak dipercaya, ia pindah sekolah, menerima perlakuan buruk, kemudian terlibat penggunaan ganja karena merasa gejalanya berkurang, dan akhirnya tersisih dari jalur pendidikan. Contoh ini menunjukkan bagaimana talenta besar dapat hilang hanya karena sistem pendidikan tidak memahami neurodivergensi.
Contoh lain adalah seorang siswi dengan autisme yang mengingat semua aturan sekolah sejak SD. Setiap kali melihat aturan dilanggar, ia mengalami distress berat dan meninggalkan kelas secara tiba-tiba. Sekolah melarangnya hadir karena alasan “tidak mampu menjaga keselamatan”, sampai akhirnya solusi sederhana ditemukan: memberikan akses ke ruang kesehatan yang tidak terpakai sebagai ruang tenang. Setelah itu, ia dapat kembali bersekolah tanpa masalah besar. Kasus ini menunjukkan bahwa solusi sering kali sederhana, tetapi tidak terlihat oleh sistem yang tidak sensitif terhadap kebutuhan neurodivergent.
Pembicara juga menggambarkan bahwa banyak orang autisme atau ADHD memiliki kekuatan luar biasa:
- orang dengan Tourette sering sangat presisi dan cepat dalam bekerja;
- orang dalam spektrum autisme membuat lebih sedikit kesalahan, sangat detail-oriented, dan banyak perusahaan teknologi kini menyadari keunggulan ini;
- banyak autistik, ADHD, disleksia, atau trisomi 21 cenderung berpikir dalam gambar (visual thinking), yang sangat berguna dalam keamanan siber, pemrograman, atau analisis pola.
Namun, secara sosial, angka pengangguran di antara orang dewasa dalam spektrum autisme sangat tinggi. Hanya sebagian kecil yang bekerja penuh waktu atau berada di bidang sains dan teknologi (MINT). Padahal kemampuan mereka sangat dibutuhkan.
Pembicara menggambarkan bahwa inklusi di perguruan tinggi masih memiliki banyak hambatan. Misalnya, kompensasi akademik (Nachteilsausgleich) bagi mahasiswa autisme berupa “lebih sering boleh absen”, padahal mereka justru kehilangan banyak informasi penting yang biasanya disampaikan di percakapan informal di lorong atau tangga. Upaya pendampingan pun sulit: pendamping dari psikologi atau pendidikan khusus terlalu dominan, sementara pendamping tanpa pengetahuan justru harus dijelaskan banyak hal. Pendamping yang paling efektif ternyata mahasiswa lain yang juga neurodivergent, karena hubungan yang terbangun lebih setara. Namun jumlah mereka masih terlalu sedikit.
Pembicara menekankan bahwa neuroinklusi adalah proses besar, tetapi harus ditempuh. Perguruan tinggi perlu menciptakan format belajar dan ujian yang fleksibel serta akses yang lebih adil. Kuncinya bukan membuat aturan kaku, tetapi berdialog langsung dengan mahasiswa neurodivergent, menanyakan apa yang pernah berhasil, dan bekerja sama menemukan solusi yang sesuai.
Pada akhirnya, pembicara menegaskan bahwa orang-orang neurodivergent adalah ahli terbaik untuk menjelaskan kebutuhan mereka sendiri, dan sistem pendidikan harus belajar mendengarkan mereka.


Schreibe einen Kommentar